Minggu, 01 Mei 2011

PAHLAWAN LINGKUNGAN

Seorang Ibu-ibu tua yang bekerja sebagai penyapu jalanan dan pemungut sampah . Ia bekerja didepan sebuah sekolah SMA 29 .
“Aah, buang disini aja . Ngapain repot-repot ketempat sampah yang jauh itu .” sahut Rani sambil melempar kaleng minuman nya . Rani adalah siswa SMA 29 .
“Nak, jangan buang sampah sembarangan. Kalau tiap hari kamu melakukan hal seperti itu, sampah nya akan menggunung dan akan menyebabkan banjir nak .” ucap ibu tua itu lembut dan langsung meneruskan menyapu jalanan . Rani seketika menarik baju ibu tua itu .
“Woy ! sok tau banget sih lo ! lo kan kerja nya mungutin sampah. Ya elo dong yang mungutin sampahnya . Ga usah pake nasehatin orang segala! Ngerti ga ?” Rani segera pergi meninggalkan Ibu tua itu. Ibu itu bernama Aminah dan berumur 47 tahun .
Ibu aminah itu menatap Rani tajam . Ia langsung memungut kaleng minuman yang Rani lemparkan tadi .
Esoknya, Rani melakukan hal yang sama. Tetapi, Ibu tua itu membiarkan sampah Rani tergeletak . Tiap hari sejak hari itu ibu Aminah membiarkan sampah-sampah yang Rani buang menggunung , agar Rani sadar berapa banyak sampah yang ia buang . Tetapi, suatu hari Ibu Aminah itu menyerah, ternyata Rani memang tidak sadar kalau ia yang menyebabkan sampah-sampah nya menggunung . Ibu Aminah terpaksa mengangkut semua sampah-sampah itu dan membawa nya ke tempat pembuangan sampah .
“Nak, jangan sekali lagi kamu buang sampah sembarangan . disana ada tempat sampah . Kenapa tidak kamu buang ketempat sampah itu . Jakarta sering terjadi banjir . kalau manusia di Jakarta seperti kamu, pasti Jakarta tidak akan selamat nak . Kamu harus sadar .” Nasehat Ibu tua itu . “ APA SIH LO ?! SOK TAU ! NYEBELIN BANGET JADI GEMBEL ! GEMBEL AJA BLAGU BANGET ! NYEBELIN LO ! AWAS SEKALI LAGI LO SOK NASEHATIN GUE KAYA GINI ! AWAS LO !” bentak Rani dan ia mendorong Ibu Aminah sampai terjatuh ke aspal. Rani segera pergi . Kedua bola mata Ibu Aminah berkaca-kaca . Ia sedih bukan karena perlakuan Rani kepadanya , tapi ia sedih kenapa masih ada orang yang tidak peduli akan lingkungannya. Padahal demi kepentingan diri mereka sendiri juga . Tiba-tiba terlihat seorang Siswa SMA 29 datang dan ia segera membantu Ibu Aminah berdiri tegak kembali .
“Bu, Ibu tidak apa-apa ?”
“Tidak apa-apa nak, terimakasih yah”
“Dia rani Bu, dia kok jahat banget sama Ibu yah ?”
“ Mungkin itu didikan yang salah dari orang tuanya. Nama mu siapa ?”
“Nama saya Mytha Bu. Nama Ibu siapa dan Ibu tinggal dimana ?”
“Nama Ibu Aminah dan Ibu tinggal di belakang sekolah ini nak Mytha.”
“Oh begitu. Ibu punya suami dan anak?”
Seketika Ibu tua itu terdiam lama, entah apa yang ada dalam benak dan pikirannya .
“Bu ?”
“Ehm, Ibu punya 3 anak dan suami Ibu sudah pergi meninggalkan Ibu dan anak-anak Ibu sejak 4 tahun yang lalu .”
“kemana bu?”
“Suami Ibu pergi menghadap tuhan”
Mytha langsung mengerti dan merasa bersalah atas ucapannya, kenapa ia harus menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu dan membuat Ibu Aminah sedih.
“Ya ampun Bu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih.”
“Tidak apa-apa nak Mytha .”
Mytha merangkul pundak Ibu Aminah. Mytha mengajak Ibu Aminah makan bubur ayam . Sembari makan, ia bertanya-tanya tentang kehidupan seorang Ibu Aminah. Ia tercengang ketika ibu aminah berkata, ia harus membiayai sekolah ketiga anaknya, yang masing-masing bersekolah SD, dan SMP. Juga membiayai hidup mereka dan dirinya hanya dari hasil bekerja menyapu jalanan dan memungut sampah, yang gajinya tidak seberapa . Mytha pun lebih tercengang, ketika Ibu Aminah bilang kalau ia sering menanam sebuah tanaman dilahan kosong Jakarta . Menurutnya Jakarta harus kembali hijau. Ia ingin cucu, cicit dan keturunannya nanti menikmati kehijauan jakarta . Memang mulia . Tiba-tiba suatu ide terlintas dipikiran Mytha . Ia ingin Pemerintah memberi penghargaan terhadap Ibu Aminah. Walaupun dia baru mengenal Ibu Aminah, tapi dia bisa merasakan kepedulian Ibu Aminah terhadap lingkungan yang sungguh luar biasa. Karena, jaman sekarang ini jarang sekali ditemukan orang seperti Ibu Aminah. Mytha juga sadar dirinya belum tentu bisa melakukan apa yang dilakukan Bu Aminah.
Esoknya, Mytha mengirim surat kepada Pemerintah. Tiap hari sepulang sekolah ia rajin mengirim terus surat itu sampai mendapatkan balasan nya .
Berhari-hari ia menunggu balasan surat, siang harinya petugas pos datang mengantarkan surat dari Pemerintah yang inti dari isi surat itu berisi, Pemerintah memanggilnya untuk datang ke gedung Pemerintahan untuk menjelaskan lebih rinci . Ia pun segera ke gedung Pemerintah itu dan menjelaskan semuanya . Mytha ingin Pemerintah memberi penghargaan kepada Ibu Aminah. Beberapa orang yang ada didalam gedung itu pun setuju dan akhirnya Pemerintah menyuruh Mytha untuk membawa Ibu Aminah itu ke gedung ini .
“Terima kasih pak, terimakasih banyak.”
Pada pagi harinya, Mytha mencari-cari Ibu Aminah. Ia bertanya ke beberapa orang, tapi mereka tidak mengetahui dimana Ibu Aminah.
“Dimana ibu aminah yah?”
Kedua bola matanya langsung menatap ke arah ujung jalan .
“Bu ! Ibu !” sahutnya, ia segera menghampiri Ibu Aminah tersebut .
“Bu, nanti sehabis pulang sekolah ibu ikut saya yah ?”
“Mau kemana nak Mytha ?”
Mytha tersenyum penuh kebahagiaan .
“Udah, Ibu pokok nya ikut aja yah. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti Ibu juga tau.”
Mytha segera berlari memasuki gerbang sekolahnya yang hampir ditutup.
Beberpa jam berlalu dan bel pulang sekolah berbunyi nyaring . Mytha bergegas berlari cepat dan menghampiri Ibu Aminah yang sedang menyapu jalanan .
“Bu, ayo !” Ibu Aminah mengangguk kecil .
Sesampainya digedung pemerintah , Ibu Aminah terus bertanya-tanya kepada Mytha kenapa ia mengajaknya kesini, tapi Mytha tidak ingin menjelaskannya dulu. Mereka pun memasuki pintu . Mytha bertemu para pejabat. Pemerintah segera menjelaskan semuanya kepada Ibu Aminah dan Pemerintah tersebut memberikan sebuah penghargaan berupa uang dan gelar, yaitu “PAHLAWAN LINGKUNGAN” .
Ibu Aminah kaget, tidak menyangka dan tidak percaya . Ia pun segera memeluk tubuh Mytha erat-erat .
“Terimakasih nak mytha. Terima kasih .”
“Iya Bu, Ibu tuh memang berhak mendapatkan semua ini. Semua yang Ibu lakukan sungguh mulia .”
Ibu Aminah meneteskan air mata kebahagiaan, begitu pun Mytha . Mereka berdua saling tersenyum penuh rasa bahagia.



by. arum

Tidak ada komentar: