Minggu, 01 Mei 2011

SUNDA, JAWA UNTUK INDONESIA

Dua orang sahabat yang berbeda adat dan suku. Yang satu bernama Wulan Sari asal Garut dan yang satu bernama Yanti estiningrum asal Tegal. Keduanya tidak fasih berbahasa Indonesia, tapi mereka bersosialisasi menggunakan bahasa yang dipakai masing-masing ditambah bahasa isyarat. Wulan menggunakan Bahasa Sunda dan Yanti menggunakan Bahasa Jawa yang kental dan meddok. Mereka bertemu karena satu kampus di Bandung.
“Yanti, ieu teh buku nu saha?” Wulan bertanya kepada Yanti sambil ujung jari telunjuknya menunjuk buku yang ia pegang. Yanti hanya menggeleng-gelengkan kepala yang menandakan tidak tahu buku itu punya siapa.
Dosen mata pelajaran Pancasila pun masuk ke kelas. Seluruh mahasiswa segera memasuki ruang kelas dan duduk manis ditempatnya masing-masing, begitu juga dengan Wulan dan Yanti yang duduk bersebelahan.
“Abdi teu ngarti dosen eta teh keur nerangkeun naon?!” jari telunjuk Wulan menunjuk dosennya dan menggelengkan kepala. “kembar, aku be ora ngerti.” Yanti mengangguk pelan. Mereka pun tersenyum aneh.
“Sumpah pemuda dibacakan pada kongres pemuda yang diadakan di Waltervreden dan sekarang Jakarta. Tolong kamu sebutkan isi dari sumpah pemuda. Saya ingin mengetes apakah kamu hafal atau tidak.”
“Sa. Saya Bu ?” tanya Desi, mahasiswa yang mahir empat bahasa daerah di Indonesia.
“Iya kamu.”
“Baik bu. ‘Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku bertumpah darah yang Satu
Tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku berbangsa yang Satu
Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia’
Sudah bu.”
Tiba-tiba Wulan dan Yanti saling melihat dan berpandangan. Mereka masih sedikit mengerti tentang isi dari Sumpah Pemuda tersebut, karena pada waktu masih duduk dibangku sekolah di daerahnya masing-masing, mereka mengerti karena bahasa yang dipakai sama seperti bahasa yang mereka pakai Sunda dan Jawa.
Beberapa jam berlalu dan dosennya keluar dari ruang kelas. Yanti memanggil Desi. “Desi ! Ningkene aku pengin koe ngartini primen yang aku omongin karo Wulan.”
Desi segera menghampiri Wulan dan Yanti. Yanti menjelaskan, “Kok, nyong merasa kita durung bersiji. Karena bahasa yang kita nganggo ora kembar dan durung bahasa persijian, yakue Indonesia.” Desi segera menterjemahkan omongan Yanti kepada Wulan. “Nuhun, Abdi oge hayang nyarios sapertos eta.” Desi menterjemahkan lagi omongan Wulan ke Yanti. Dari beberapa perbincangan mereka berdua yang dibantu oleh penerjemah yaitu Desi, akhirnya mereka mengambil keputusan mereka ingin belajar Bahasa Indonesia yang lebih fasih. Karena pada teks Sumpah Pemuda yang tadi dibacakan oleh Desi salah satunya bahwa : ‘Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia’
Menurut Wulan dan Yanti, mereka berarti belum saling bersatu. Karena bahasa yang mereka pakai bukan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia melainkan Bahasa daerah mereka, yaitu Jawa dan Sunda. Kebetulan Desi orang Jakarta yang bisa empat bahasa Daerah. Tiba-tiba terbesit ide di pikiran mereka untuk belajar Berbahasa Indonesia dengan bantuan Desi. “Yo wis, koe olis senawu Bahasa Indonesia karo aku. Anjeunna tiasa di ajar basa Indonesia jeung Abdi.” Yanti dan Wulan mengangguk dan merangkul bahu Desi sambil melempar senyum.
Selama lima bulan mereka belajar Bahasa Indonesia dengan Desi. Banyak sekali kemajuan, bahkan mereka sudah bisa saling bersosialisasi satu dengan yang lainnya menggunakan Bahasa Indonesia.
“Yanti, memang enak yah kalau kita bisa berbahasa Indonesia. Kita lebih paham apa yang lawan bicara kita ucapkan. Kita juga bisa menjunjung tinggi Bahasa Indonesia.” Ucap Wulan tersenyum riang penuh kesenangan. “Ia Wulan, aku juga berpikiran sama dengan mu. Tapi, kita juga tidak boleh melupakan bahasa asli kita. Kamu Sunda dan aku Jawa.”
“Dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh budaya barat yah. Because, we just love Indonesia” Campur Desi. “Hey ! kamu yang terpengaruh dengan bahasa asing!”
“Yah, kalau seperti itu tidak terlalu masalah kan yan, lan . hehe”
Mereka bertiga tertawa lepas.
Intinya memiliki dan memakai bahasa daerah memang asyik, tapi fasih berbahasa Indonesia yang lebih asyik.

‘Junjung tinggi Tanah Air Indonesia
Junjung tinggi Bangsa Indonesia
Dan Junjung tinggi Bahasa Indonesia.’

Tidak ada komentar: