Minggu, 01 Mei 2011

TEKAD PEMUDA UNTUK BERUBAH

Steven seorang pelajar SMA Kartini yang menjadi pentolan sekolahnya dalam setiap tawuran.
“Woy ! Serbu !” teriak Steven sambil mengacungkan tangan kanannya yang memegang sebuah kayu. Seluruh anak-anak SMA Kartini yang tawuran mengikuti aba-aba dari sang pentolan tersebut.
Seluruh Siswa-siswa yang tawuran berhamburan. Dua sekolah menjadi dalam satu wadah yang keduanya saling bertentangan.
Akhirnya SMA Kartini memenangi tawuran tersebut entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi, mereka tidak hanya membawa kemenangan, tapi juga membawa luka lebam dan bonyok, bahkan salah satunya ada yang mati karena terinjak.

***
“Steven, kenapa jam segini kamu baru pulang?” tanya mamah geram melihat kelakuan anaknya yang selalu pulang malam. Steven tak menghiraukan ucapan mamahnya. Ia segera masuk kedalam kamarnya. “Steven ?!” mamahnya menggedor-gedor pintu kamar Steven. Tapi tetap saja kedua telinga Steven tidak dipasang ditempatnya.
Esok paginya, Steven tidak ikut sarapan bersama papah dan mamahnya. Ia buang muka dan segera berlari melewati meja makan. “Breakfast dulu Steven.” Sahut papahnya. Seketika Steven menghentikan langkahnya dan berbalik badan. “Tumben perhatian, kemana aja ?!” Steven segera melanjutkan langkah panjangnya. Kedua orangtua Steven memang jarang sekali berada dirumah. Kalau ada dirumah juga hanya pada malam hari jika pulang kerja dan pagi harinya untuk sarapan pagi jika akan berangkat kerja. Ia merasa kesepian, dan menurutnya ia hanya menjadi pajangan dirumah. Steven anak tunggal, maka sebab itu ia lebih-lebih merasa kesepian. Ia juga sadar kelakuannya yang nakal dan kelewat batas. Tapi baginya itu suatu wujud kekesalan dan kekecewaan terhadap kedua orangtua nya.

***
“Den, gue bolos sampai istirahat nanti. Gue mau ngerokok. Gue stres.” Ucap Steven berbisik.
“Yaudah, nanti gue ijinin kalo lo lagi ga enak badan dan berada di UKS.”
“Okay, thanks !” Steven segera pergi menuju gudang belakang sekolah. Ia biasa merokok untuk menghilangkan stresnya.
Beberapa lama kemudian bel istirahat berbunyi, nyaris membuat kuping sakit. Steven seketika bangkit berdiri dari posisinya yang tadi sedang duduk bersila. Ia segera mematikan putung rokok nya dan berlari menuju kelas.
“Dennis, tadi ada tugas atau PR ga ?”
“Ada, dan tadi nyatet ringkasan materi banyak banget.”
“Yaudah gue pinjem. Gue mau ngerjain.” Seketika Dennis terbelalak mendengar ucapan Steven tadi. Ga biasanya Steven seperti itu. Ada apa dengan nya? Tanya nya dalam hati. Segera Dennis mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Steven langsung menyalin secepat kilat.
Beberapa jam berlalu dan bel pulang sekolah pun berdering nyaring. Steven segera mengemas-ngemaskan buku-buku yang berarakan di mejanya. Ia pun pulang.

***
“Mas Steven mau makan apa?” tanya mbok Darmi pembantu dirumah Steven yang sudah 15 tahun bekerja pada keluarganya.
“Mmm, aku mau makan sayur bayem masakan mbok yang enak itu.”
“Ah mas Steven bisa aja, jadi ge-er nih mbok.” Steven tertawa lepas. Mbok Darmi melihat ada yang beda dari anak majikannyua ini. Yang dulunya angkuh dan sangat dingin, sekarang terlihat seperti manusia yang serasa hidup kembali.
“Mbok?”
“Oh iya mas. Oke mbok masakin yang spesial buat mas Steven. Sayur bayem ala mbok Darmi.”
“hehe, iya dong mbok yang spesial. Yaudah kalo begitu aku ke kamar dulu mau ganti baju.”
“Siap mas Steven.”
Steven berlari kecil memasuki kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. “Gue ingin berubah. Gue ga mau menjadi pemuda yang tidak berguna. Keahlian gue apa coba? Tawuran? Itu sama sekali bukan keahlian kecuali pukul-pukulan. Kalo itu sebagai wujud kekesalan dan kekecewaan gue pada bokap dan nyokap, itu bukan cara yang terbaik. Gue emang kurang perhatian mereka, dan cara merubah itu semua, gue akan bilang langsung kepada bokap dan nyokap gue supaya mereka bisa meluangkan sedikit waktunya untuk bersama gue. Oke akan gue coba.” Sejenak Steven terdiam lama.
Malam harinya, mamah dan papah Steven pulang. Segera Steven keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia pun membukakan pintu untuk kedua orangtua nya. “Malam pah, malam mah.” Kedua orangtuanya terdiam .
“Mah? pah?” tanya Steven heran. Tapi ia bisa merasakan dan mengerti atas kebingungan yang ada pada kedua orang tuanya itu. “Malam Steven.” Jawab papahnya dengan senyum yang tak disangka-sangka Steven.
“Sayang? Kamu sakit yah?”
“Duh mamah, Steven engga sakit sama sekali kok.”
“Sayang, gitu dong. Mamah sama papah tuh kangen banget sama kamu yang dulu.” Ucap mamah dan langsung memeluk Steven.
“Iya mah, aku juga kangen banget sama mamah dan papah. Aku merindukan kasih sayang dan perhatian kalian. Aku ingin sekali mamah dan papah meluangkan sedikit waktu kalian untuk bersama aku.”
“Maafkan papah dan mamah Steven. Papah dan Mamah sadar, sikapmu yang seperti kemarin-kemarin memang karena kami kurang memberikan perhatian kepada kamu, anak kami satu-satunya.”
Mereka bertiga saling berpeluk erat penuh cinta dan kasih sayang bak 3 oarang yang berpulun-puluh tahun tidak bertemu.

***
Hari ini tanggal 28 Oktober adalah hari Sumpah Pemuda. Dimana pemuda-pemuda dulu mengucapkan ikrar untuk mengaku bertumpah darah, mengaku berbangsa dan menjunjung bahasa persatuan, kepada negara indonesia ini.
Seluruh Siswa SMA Kartini berhamburan menuju lapangan untuk mengikuti upacara Peringatan Sumpah Pemuda. Seperti sebelum-sebelumnya, Steven berbaris paling depan, karena badan nya yang proprsional alias lebih tinggi dibandingkan teman-teman yang lain. Ia mengikuti upacara dengan khidmat. Saat ikrar Sumpah Pemuda dibacakan oleh salah satu petugas upacara, kedua bola mata Steven berkaca-kaca. Ia merasa telah menjadi Putra Indonesia yang merugikan bangsa. Mengikuti tawuran dan membolos pelajaran. Steven sadar atas perbuatannya selama ini. Steven yakin ia bisa berubah dan menjadi Putra Indonesia yang membanggakan. Ia juga bertekad tidak akan lagi mengikuti tawuran dan membolos pelajaran semaunya, karena hal itu akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Tidak ada komentar: