Sabtu, 07 Maret 2015

Lahan Pahala (Chapter 1)

Assalamu'alaikum..
Hoahm, baru terbangun kembali dari tidur panjangku. Tak ku sangka setahun sudah tak bercuap-cuap. Hehe. Selamat datang 2015 Masehi! 

Menginjak bulan ke tiga di tahun 2015 ini, sudah banyak pengalaman yang telah ku lalui. Salah satunya adalah pengalamanku mengunjungi Sekolah Luar Biasa yang berisi anak-anak yang pastinya juga luar biasa. Bu Ambar lah yang mengantarkanku hingga sampai di sekolah yang biasa disebut SLB itu. Bu ambar adalah dosen Biopsikologi yang telah memberikan tugas kelompok kepada kami untuk belajar meneliti berbagai gangguan dan kelainan fisik yang terjadi di masyarakat. Aku menetapkan pilihan partner yang tidak lain adalah Agnes Devrisca, salahsatu soulmate aku di kampus. Bisa dibilang teman paling dekat dibanding teman-teman psikologi yang lainnya. Dan kami pun akan bekerja-sama untuk kelancaran proses dan hasil tugas kami. 

Pada awanya, kami berencana untuk memilih Rumah Sakit Jiwa sebagai sasaran tempat kami dalam meneliti kelainan dan gangguan fisik. Well, kami pun menjalankan rencana itu hampir sangat baik. Pertama, kami membuat surat untuk RSJ perihal ijin meneliti dari kampus, tujuan kami adalah Rumah Sakit Jiwa yang berada di daerah Martadinata, kalau tidak salah. Alhasil, kami pada hari Sabtu 21 Februari 2015 bergerak menuju RSJ tersebut. Dengan bermodalkan pengetahuan seadanya mengenai letak tempat tersebut, kami pun pergi dengan percaya diri menggunakan buss dan turun di Alun-alun Bandung, selanjutnya dari situ kami bertanya kepada petugas penjagaan di Masjid Raya mengenai letak tempat tersebut. Cenah, tidak terlalu jauh. Okay, karena tdak jauh (cenah) kami pun berjalan kaki hingga sampai pada tempatnya. Kalian tahu, menurutku itu tidak jauh, tetapi jauh sekali. Hahahaha. Kalau di hitung-hitung seperti berjalan dari rumahku di Graha Harapan hingga Pasar Tambun (Maaf ini lebay).

Lanjut, sesampainya disana kami melakukan interaksi dengan petugas penjagaannya yang sangat ketat *bukan pakaiannya yah* hehe. Disitu kami ditanya banyak. Dan dengan surat yang telah dibuatkan Fakultas tadi akhirnya kami berhasil masuk. Di ajak lah kami oleh salahsatu petugas ke lantai 3, dimana lantai 3 mungkin berisi ruangan-ruangan seperti tata usaha dan administrasinya. Singkat cerita, kami di alihkan untuk pergi ke RSJ pusat di sekitar daerah Lembang, yang alasannya Rumah Sakit Jiwa ini telah berubah fungsi menjadi Klinik Kejiwaan saja. Dan bukan menjadi Rumah Sakit Jiwa Bandung. 

Dipikir-pikir buat apa mencari yang ribet, kalau yang mudah itu ada? berpikirlah otak kami, dan kami memutuskan untuk merubah tujuan tempat penelitian. Dengan alasan yang memungkinkan. Well, seminggu kemudian kami pergi ke SLB Cibaduyut dengan berdasarkan sumber dari Agnes. 

Dengan perasaan was-was, kami pergi menuju Cibaduyut menggunakan Damri. Oh iya, kami pergi bertiga bersama Ade Irma. Dikarenakan dia tidak ada partner, dia memutuskan untuk sendiri, namun melakukan penelitian bersama-sama kami ke SLB tersebut. Finally, kami sampai. Oh ternyata namanya SLB YPLAB Cibaduyut. Dengan hati takut-takut dan kurang percaya diri, kami memasuki gerbang sekolah dan bertemu dengan salah-satu guru SLB, yaitu seorang laki-laki berperawakan tinggi besar. Dengan tangan terbuka beliau menyambut baik kedatangan kami. Kami dibawa masuk untuk melihat salahsatu murid, sayangnya saat itu hanya 3 murid saja, dikarenakan sedang ada perlomban di salahsatu universitas Bandung. 

Aku bertemu dengan seorang perempuan imut yang lucu bin ajaib. Kenapa ajaib? Karena dia sangat baik dengan kami. Namanya Salma, dia berusia 11 tahun. Salma menderita Down Syndrome. Yaitu kelainan yang terjadi akibat dalam pembentukan janin kelebihan kromosom dari orangtuanya (untuk lebih jelasnya, bisa kalian searching di mbah gugel). Dia anak yang pandai dan cerdas, ibunya bercertia kepada kami mengenai salma yang sangat semangat untuk pergi ke sekolah dan berada disekolah. Meskipun fisik dan psikisnya tidak seperti orang normal pada umumnya, ibunya meneritakan bahwa orang-orang terdekat Salma selalu memperlakukan Salma seperti anak-anak pada umumnya, malah sangat teramat lebih dicintai. Dari pengakuan ibunya, sewaktu hamil Salma, Beliau tidak ada keluhan apapun, semua baik-baik saja. Namun, ketika lahir muncullah hal itu. Dan ketika ditanya usia berapa beliau melahirkan Salma, beliau menjawab usia 35 tahun, hmm pantas saja. Karena di usia sepeti itu sudah rawan kehamilan yang meneyebabkan kelainan pada janin. Tapi menurutku, Salma adalah Anugrah dari Tuhan  yang dihadiahkan kepada keluarganya. 

Selanjutnya, kami berkenalan dengan 2 anak lainnya yang bernama Sarah dan Puji. Kalau tidak salah, mereka penderita Tuna Grahita, yaitu kelainan pada mental yang menyebabkan IQ mereka sangat rendah dibanding anak-anak seusianya. Mereka sangat malu-malu bertemu dengan kami. Saat pertama bertemu dan ditanya nama saja, yang bernama Puji langsung mengumpat. Mereka berdua rata-rata berusia 14 tahunan. Setelah selesai dari situ kami langsung pulang. Dan minggu yang akan datang kami berencana untuk datang kembali.

Hari ini tanggal 07 Maret 2015 akhirnya kami datang kembali ke SLB Cibaduyut. Dan cerita akan dilanjutkan di postingan selanjutnya. thanks!
Wassalamu'alaikum..