Rabu, 13 April 2016

Dear Goal.....

Sebenarnya entah aku ingin menulis tentang apa, tapi Allah yang menggerakkan hati ini untuk menumpahkan keluh kesahnya kedalam sebuah tulisan, yang mungkin saja bisa mengurangi kerikil dalam pikiran ini.

Kata orang, hidup ini harus memiliki tujuan. Aku juga mempunyai hal itu. Aku punya tujuan untuk memberikan kebahagiaan kepada Ibuku yang belum pernah sama sekali dirasakan dalam hidupnya. Bukan hanya memberi segala yang ia inginkan, tapi juga memberi segala yang ia butuhkan. Ibu tidak pernah sedikitpun memintaku ataupun memaksaku untuk menuruti semua keinginannya, ia hanya mengabdikan dirinya menjadi Ibu yang sebenarnya, dengan memberi, memberi, dan memberi. Seluruh kebahagiaannya ia limpahkan kepada semua anak-anaknya, hingga yang tersisa dihidupnya hanya perih. Aku belajar darinya, bahwa kasih sayang itu bukan masalah seberapa sering kita meminta, tapi seberapa banyak kita memberi tanpa meminta.

Hm, tapi itu tujuanku yang dulu, sebelum Ibuku menghadap Sang Illahi Robbi..

Aku teringat kata nenek ku dulu, apabila kita masuk disekolah negeri, secara tidak langsung kita meringankan beban orangtua. Aku juga teringat kata ibuku saat aku mati-matian belajar untuk mendapatkan perguruan tinggi negeri, bahwa ibu tidak pernah memaksa untuk aku diterima di PTN. Tapi, justru Allah menghadiahkan Ibuku dengan diterimanya aku di dua perguruan tinggi negeri, UIN dan UNJ. Yang aku ketahui, bahwa ibu sangat bahagia akan hal itu. ibu sering mengatakan kepada orang-orang, bahwa aku mendapatkan PTN. Aku tahu sekali bahwa bukan maksud Ibu untuk sombong, tapi secara tidak langsung ibu mengatakan bahwa dengan segala keterbatasan yang keluarga kami punya, tapi anaknya dapat diterima di PTN. Kalian tahu? Bahwa perekonomian keluarga kami bisa dikatakan cukup buruk. Untuk aku sekolahpun, Ibu menjual jasa antar jemput anak sekolah, catering, hingga menjual kue-kue kering. Dengan sakit yang dideritanya, ibu berusaha kuat untuk menghidupi ketiga anaknya walaupun dengan keterbatasannya.
Yaps, dengan ketiadaan ibu sekarang, tujuanku kini bukan untuk memberi kebahagiaan untuknya, tapi berusaha untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah ia berikan kepadaku...

Gili Trawangan, Lombok

Gili Trawangan est la plus grande des trois petites îles ou digue située dans le nord-ouest de Lombok. Trawangan est également la seule digue dont la hauteur au dessus du niveau de la mer est importante. Avec une longueur de 3 km et 2 km de large. Parmi les trois digue, Trawangan dispose d'installations pour les touristes les plus diverses; magasiner.

Trawangan a des nuances de "partie" plus de Gili Meno et Gili Air, parce que de nombreux partis toute la nuit tous les soirs du spectacle mis en rotation par certains lieux publics. Les activités populaires menées en touristes Trawangan sont plongée sous-marine (avec PADI), plongée en apnée (côte nord), et le surf. Il ya aussi plusieurs endroits pour les touristes d'apprendre à monter autour de l'île.

Sur Gili Trawangan (ainsi que dans deux autres digues), il n'y a pas de véhicules motorisés, car il n'est pas autorisé par les règles locales. Des moyens communs de transport des vélos (loués par les habitants pour les touristes). et cidomo, simples chariot tiré par des chevaux qui sont communs à Lombok. Pour voyager vers et à partir de la troisième digue, les gens utilisent habituellement des bateaux et de bateaux à moteur.